Tuesday, April 14, 2015

8 Racun Kehidupan


Hilary Bergsieker (profesor ilmu perilaku sosial dari Psychology Department Universitas Waterloo, Kanada) mengatakan bahwa kerusakan dalam berpikir dan bersikap dikarenakan "racun" dan energi negatif dalam pikiran kita. Pribadi yang sehat adalah amazing people yakni pribadi yang menarik, disukai, memiliki hubungan win-win dan bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya perilaku yang rusak dan beracun (atau toxic behavior) akan menimbulkan gesekan, persinggungan, pertengkaran, dan rasa tidak nyaman kepada orang lain.

Hilary menggarisbawahi bahwa toxic behavior dapat mengancam relasi hubungan dan pergaulan antar individu maupun kelompok dalam ruang lingkup organisasi, perusahaan, teman, rumah tangga, relasi, dan lainnya. Berikut ini 8 toxic behavior yang harus kita hindari:

1 . Arrogance = Kesombongan
Kalau kita bersikap sombong terhadap orang lain maka "adrenalin negatif" akan menumpuk dalam pikiran dan hati kita. Badan kita akan menghasilkan energi negatif yang cenderung kuat menolak hal-hal yang baik, sekalipun datang dari orang yang kita anggap benar. Kesombongan adalah racun terbesar yang menutup daya pikir, akal sehat serta nalar kita terhadap hal positif. Kesombongan bisa terjadi karena sikap "keakuan" yang kuat dan memandang dirinya lebih superior dan sukses dibanding orang lain. Orang yang bersikap seperti ini karena kurang memahami bahwa pada dasarnya setiap orang adalah subjek dan bukan objek dalam ruang lingkup kehidupan. Contoh: ketika kita sukses maka kita menganggap bahwa prestasi tersebut adalah sematamata karena kerja keras diri sendiri, dan bukan karena bantuan dan peranan dari teman, bawahan atau anggota keluarga dll, yang sebenarnya turut memiliki andil.

2. Ignorance = Ketidakpedulian
Ignorance terjadi karena tidak peka dan ketidak pedulian terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita. Contoh: kalau ada orang sedang kesusahan, kelaparan, berduka, atau menderita, maka empati atau rasa kasihan tidak akan muncul dari diri kita. Ignorance muncul karena kita takut berbagi perhatian dan kepedulian, dan menilai orang lain yang menderita semata-mata karena faktor nasib. Bukan karena faktor situasi yang mungkin bisa diubah karena bantuan dan perhatian kita.

3. Denial = Penyangkalan
Seberapa sering kita menyangkal terhadap apa yang telah kita perbuat dan merugikan pihak
lain? Penyangkalan disebabkan karena kita tidak memiliki "jiwa dalam pikiran kita". Kita kehilangan kesadaran untuk berani mempertanggung jawabkan atas apa yang kita lakukan. Penyangkalan kerap membuat kita buta terhadap realita yang sebenarnya. Ketika kebanyakan orang lain mengatakan warna putih adalah putih, maka kita tetap mengatakan hitam. Penyangkalan terjadi karena kita tidak peduli dengan perasaan orang lain. Contoh: jika tim kerja kita mengalami kemerosotan kinerja, maka kita melepas tanggung jawab dan kenyataan sebenarnya, dan menyangkal dengan memberikan argumentasi dan pembelaan diri bahwa semuanya tetap berjalan baik.

4. Tinkering = Mengerjakan sesuatu tanpa keahlian
Banyak kisah sukses yang dimulai dengan tindakan dan cara berpikir hal-hal kecil dan sederhana. Dari situ kita dapat memupuk, melatih, dan mengasah potensi diri secara bertahap dan menjadikannya suatu keahlian yang kita kuasai. Untuk menjalankan suatu pekerjaan apapun, kita dituntut memiliki kemampuan dan keahlian baik secara teori dan Tinkering bisa terjadi karena kita tidak mau belajar dan melatih diri agar menjadi lebih cakap. Akibatnya sering menjadi hambatan bagi orang lain. Kalaupun kita telah merasa pandai dan tidak mau terus belajar, maka kualitas keahlian akan menurun. Maka kemampuan kita bukan menjadi obat, tetapi dapat menjadi racun bagi orang lain. Untuk mengubah keadaan, kita hendaknya berani memberikan pengorbanan melalui tenaga, pikiran, waktu, bahkan biaya, agar semakin berilmu dan tidak menjadi beban pihak lain. Contoh: seorang penjual tidak mau belajar dari penjual yang sukses, membaca buku-buku penjualan atau mempraktikkan secara konsisten, disiplin, dan teratur. Akibatnya prestasi penjualan tidak pernah dicapai dan merugikan perusahaan serta dirinya sendiri.

5. Losing focus = Kehilangan fokus
Fokus adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan mulai dari perencanaan, penyusunan, tindakan, sampai evaluasi dengan baik, efektif, dan efisien. Ketidakmampuan kita untuk fokus sering disebabkan karena memikirkan dan bertindak pada hal-hal yang sepele dan kurang bermanfaat. Untuk fokus, kita memerlukan latihan yang teratur, serta sikap tegas dalam menentukan sikap kita. Kehilangan fokus sering menjadi beban besar pada diri sendiri dan orang lain yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam aktivitas kita sehari-hari. Contoh: Pada saat kita harus menyelesaikan suatu tugas penting, kita lupa pada target waktu, ukuran, dan standar pencapaian hasil kerja.

6. Permissive = Toleransi negatif
Lawan dari konsistensi adalah permisif yakni toleransi yang negatif (terhadap korupsi, manipulasi dan indisipliner). Contoh: ada peraturan bahwa setiap orang dilarang terlambat masuk kerja; maka ketika kita membiarkan segelintir orang melanggar karena "unsur suka dan pilih kasih", maka akan merusak tatanan, standar dan aturan yang berlaku.

7. Egoism = Sikap keakuan (egoisme)
Sering dalam pergumulan hidup, kita bertanya: saya yang lebih penting atau orang lain yang harus saya seimbangkan dalam hubungan sosial. Kita sering menempatkan diri kita lebih berharga dan berarti dibanding yang lain. Kesalahan terbesar dalam menempatkan diri kita "sebagai yang paling berarti" menyebabkan kehilangan sikap dalam berbagi dan berempati kepada orang lain. Egoisme muncul karena kita takut menghadapi realita bahwa hidup dan hasil yang baik harus diperjuangkan dan diperebutkan dengan cara yang elegan dan benar. Efek dari racun pikiran dan hati ini, membuat tindakan kita tidak merefleksikan kepentingan bersama. Tindakan kita akan lebih didominasi oleh imajinasi dalam pikiran kita yang keliru dan buruk karena mementingkan diri sendiri. Maka egoisme adalah bahaya besar yang membuat kita bersikap apatis terhadap kebutuhan yang seimbang dalam hubungan dengan orang lain. Contoh: ketika kita membuang sampah sembarangan, maka kita hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap kesehatan, keselamatan, dan kebersihan lingkungan dan orang lain.

8. Conflict = Pertikaian
Akumulasi dari persoalan hidup akan menyebabkan timbulnya pertikaian dengan orang lain (permusuhan, saling menyalahkan dan menghindar dari tanggung jawab). Konflik akan melahirkan sakit hati dan dendam pada semua pihak yang terlibat. Dan pertikaian akan
menimbulkan suasana tegang pada semua pihak. Konflik atau pertikaian timbul karena tidak mampu mengelola emosi dan egoisme yang menguasai diri kita. Konflik bisa terjadi secara mental, psikologis dan fisik yang tentunya akan merugikan semua pihak. Meredakan dan mengurangi "racun-racun" dalam kehidupan kita akan berdampak positif kepada cara berpikir, berucap dan bertingkah laku. Sadari bahwa setiap manusia memiliki unsur-unsur positif yang lebih dominan daripada unsur-unsur negatif.

Tantangan terbesar bagi kita adalah mengelola dan mengembangkan kemampuan dalam mengikis secara bertahap semua unsur-unsur "racun" yang ada dalam diri kita, agar mampu menempatkan diri kita sebagai pribadi yang bermanfaat dan bernilai dalam pergaulan dan hubungan dengan orang lain. *AjiNgr*

From :



Wednesday, May 8, 2013

Taman Nasional Baluran Jawa Timur



Baluran, Pergulatan "Africa van Java" di Timur Jawa
Mentari beranjak tinggi saat Hendri Reskyono (49) dan sejumlah polisi hutan menyusup ke rerimbunan hutan akasia di kawasan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Sepatu bot dan golok tebas melengkapi perjalanan mereka.
Tak lama kemudian, "Braaak...!" Sebatang pohon berdiameter sekitar 20 sentimeter pun tumbang. Aksi penebangan ini bukan perusakan lingkungan. Itu bagian dari aksi menyelamatkan ekosistem savana di Baluran yang terus tergusur akibat masifnya pertumbuhan akasia (Acacia nilotica).
"Supaya tidak tumbuh lagi, bekas tebangan pohon akasia ini harus dilumuri cairan herbisida," ujar Hendri, Rabu (17/4/2013).
Apa yang dilakukan polisi hutan ini adalah bagian dari upaya mempertahankan jati diri Baluran. Sebagai salah satu taman nasional tertua di Indonesia, Baluran lekat dengan julukan "Africa van Java".
Hamparan savana, satwa liar, dan sengatan mataharinya yang terik, membuat pesonanya bak alam liar Afrika. "Suhu saat musim kemarau bisa 40 derajat celsius," kata Kepala Taman Nasional Baluran Emy Endah Suwarni.
Berjarak 253 kilometer dari Surabaya, Taman Nasional (TN) Baluran cukup mudah dijangkau karena terletak di tepi jalur pantai utara Jawa Timur. Letaknya di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, berbatasan dengan Banyuwangi.
Dari luas TN Baluran yang mencapai 25.000 hektar, awalnya sekitar 10.000 hektar di antaranya berupa savana yang terbentang di berbagai penjuru taman nasional. Savana menjadi habitat banteng jawa (Bos javanicus), rusa timor (Cervus timorensis), hingga kerbau liar (Bubalus bubalis).
Salah satu savana terbesar di Baluran adalah savana Bekol, seluas 300 hektar. Dari pintu gerbang taman nasional, pengunjung hanya perlu menempuh jarak 12 kilometer untuk masuk ke Bekol. Gunung Baluran setinggi 1.247 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjulang kokoh di hadapan savana ini.
Namun, savana di Baluran, termasuk Bekol, kini terancam oleh ekspansi akasia. Pesatnya pertumbuhan akasia di Baluran berawal ketika seringnya kebakaran melanda Baluran pada akhir tahun 1960-an. Pihak TN Baluran kemudian berinisiatif menanam akasia yang berfungsi sebagai sekat bakar untuk mencegah api menjalar.
Akasia yang tumbuh berjajar mengelilingi savana berhasil menjadi sekat bakar yang efektif. Namun, tanaman yang semula kawan ini menjelma menjadi gulma karena pertumbuhannya invasif dan tak terkendali. Tak hanya api yang diredam, savana pun turut dihabisi.
Luas savana yang semula 10.000 hektar kini tinggal 3.000 hektar. Khusus savana Bekol yang awalnya seluas 500 hektar menyusut menjadi 300 hektar. Penyusutan savana ini diikuti berkurangnya populasi hewan, terutama banteng jawa.
Berdasarkan sensus satwa TN Baluran tahun 1996, populasi banteng jawa mencapai 338 ekor. Namun, sensus tahun 2012 menyebutkan jumlahnya tinggal 26 ekor. "Menyusutnya savana membuat sumber air dan pakan bagi banteng makin terbatas," ucap Emy yang belum pernah melihat langsung banteng jawa.
Tahun 1986, pengunjung dan petugas dapat dengan mudah menemukan kerumunan banteng dari atas menara pandang. Namun, saat ini, banteng sangat sulit ditemui.
Daya tarik wisata
Meski berpacu dengan waktu menghadapi dahsyatnya akasia, Baluran tetap menjadi magnet bagi pengunjung. Hal ini terlihat dari peningkatan angka kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Jumlah pengunjung tahun 2010 sebanyak 15.188 orang, kemudian melonjak menjadi 28.851 orang pada 2011 dan 32.674 orang pada 2012.
Nama Baluran bahkan telah mendunia. Turis asing pun silih berganti mendatangi tempat ini. Contohnyai Jack (39) dan Imagine (39), pasangan kekasih dari London, Inggris, yang singgah ke Baluran dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Bali. "Kami ingin lihat binatang liar dan savana. Ternyata sangat menyenangkan," kata Jack.
"Serasa di alam liar. Itu baru saja lihat rusa saat safari malam," ujar Berbudi Bintang Pratama (17), siswa kelas XI SMA Madania Bogor, Jawa Barat. Bintang bersama 48 siswa jurusan Biologi SMA Madania mengunjungi Baluran dalam rangka studi lapangan.
Seorang polisi hutan, Siswanto, mengatakan, tidak setiap saat satwa liar di Baluran dapat dengan mudah ditemui. Untuk itu, pihak taman nasional sengaja membuat kubangan sebagai tempat minum satwa sehingga mereka berkumpul.
Binatang buas, seperti macan tutul dan kucing bakau, sebenarnya masih ada meski sulit sekali ditemui. Jauh sebelum ditetapkan sebagai taman nasional pada 1982, kawasan ini terkenal dengan binatang buas yang berkeliaran di padang ilalang.
Penjelajah Inggris, John Joseph Stockdale, dalam buku Island of Java menuliskan, jalan dari Ketapang, Banyuwangi, menuju Panarukan tahun 1805 pada kedua sisinya diapit oleh ilalang yang rapat. Dalam perjalanannya, dia melewati gurun, padang rumput, dan sungai. Jejak harimau pun mudah ditemui.
Sebagai areal yang dilindungi, Baluran terbagi atas tujuh zona, yakni zona inti seluas 6.920 hektar, zona rimba (12.604 hektar), zona perlindungan bahari (1.174 hektar), zona pemanfaatan (1.856 hektar), zona tradisional (1.340 hektar), zona rehabilitasi (365 hektar), dan zona khusus (738 hektar). Kebanyakan satwa berada di zona inti dan rimba.
Baluran juga memiliki hutan pantai, mangrove, hutan rawa asin, hutan payau, hutan hujan tropis pegunungan, hutan musim, padang lamun, dan gugusan terumbu karang.
Sejumlah ekosistem itu membuat Baluran memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Taman nasional ini dihuni setidaknya oleh 461 spesies flora, 28 jenis mamalia, dan 225 jenis burung. Belum lagi beragam jenis ikan dan reptil.
Namun, kekayaan flora dan fauna ini terancam tenggelam jika bumi Afrika di Jawa ini kehilangan identitasnya, yakni ekosistem savana. Inilah pergulatan akibat kekeliruan masa silam.

http://sains.kompas.com/read/2013/05/05/11553648/Baluran.Pergulatan.Africa.van.Java.di.Timur.Jawa

Monday, April 29, 2013

Lihat Tubuh Ini

DALAM TUBUH YANG PANJANGNYA SEDEPA INI, DENGAN KESADARAN DAN PERSEPSINYA, AKU NYATAKAN ADANYA PENDERITAAN, ADANYA SEBAB PENDERITAAN, BERAKHIRNYA PENDERITAAN, DAN JALAN UNTUK MENGAKHIRI PENDERITAAN.

Angguttara Nikaaya II:49

Mawas Diri

BUKAN MENGECAM KESALAHAN ORANG LAIN, ATAU HAL-HAL YANG TELAH DIKERJAKAN DAN BELUM DIKERJAKAN ORANG LAIN. TETAPI SESEORANG HENDAKNYA MEMPERHATIKAN APA YANG TELAH DAN YANG BELUM DIKERJAKAN OLEH DIRI SENDIRI.

Dhammapada 50